新闻是有分量的

Kisah TKI Lombok yang ginjalnya hilang,diduga dicuri mantan majikan

2017年2月27日下午9:13发布
更新时间:2017年2月27日下午9:14

BURUH MIGRAN。 Sejumlah mantan buruh migran dan keluarga TKI yang tergabung dalam Serikat Buruh Migran Indonesia(SBMI)melakukan aksi unjuk rasa saat memperingati hari buruh migran internasional di kantor Dinakertrans Indramayu,Jawa Barat,Senin,19 Januari。 Foto oleh Dedhez Anggara / ANTARA

BURUH MIGRAN。 Sejumlah mantan buruh migran dan keluarga TKI yang tergabung dalam Serikat Buruh Migran Indonesia(SBMI)melakukan aksi unjuk rasa saat memperingati hari buruh migran internasional di kantor Dinakertrans Indramayu,Jawa Barat,Senin,19 Januari。 Foto oleh Dedhez Anggara / ANTARA

印度尼西亚雅加达 - Kisah muram para pahlawan devisa Indonesia di luar negeri seolah tiada akhir。 Kali ini,cerita memprihatinkan disuarakan oleh Sri Rabitah mantan TKI asal Desa Sesait,Kecamatan Kayangan,Lombok Utara,Nusa Tenggara Barat。

Dia mengadu kepada bupati usai menyadari salah satu ginjalnya hilang,diduga dicuri oleh mantan majikan ketika masih bekerja di kota doha,Qatar。 Di hadapan bupati,Rabitah mengaku berangkat ke Doha pada bulan Juni 2014 melalui sebuah agensi bernama Alzajirah di Kota Abu Dhabi。 Di sana dia bekerja di rumah majikan bernama Madam Gada。

“Saya tidak lama bekerja di rumah majikan Madam Gada。 Tetapi,saya dititipkan di rumah ibunya yang sedang sakit,selama satu minggu,“kata dia yang didampingi Pusat Bantuan Hukum Buruh Migran Indonesia(PBHBMI)pada Senin,27 Februari。

Rabitah mengaku tidak lama bekerja di kediaman ibu majikannya。 Dia kemudian diminta ke rumah sakit untuk melakukan pengecekan kesehatan。 Ternyata,menurut pihak rumah sakit,Rabitah harus menjalani operasi。 散文medis itu dilakukan tanpa ada persetujuan dari keluarga dan dirinya。

Rabitah sempat tak sadarkan diri karena pengaruh obat bius。 Tetapi,begitu sadar,dia merasakan sakit di bagian pinggang kanan akibat adanya bekas operasi。

Ironisnya,usai menjalani operasi,pihak majikan tidak membawa pulang ke Doha,melainkan mengembalikan Rabitah ke pihak agensi dalam keadaan lemah。

“Di agensi,saya malah mendapatkan siksaan karena dianggap tidak bisa bekerja,”tuturnya。

Usai peristiwa itu,perempuan berusia 25 tahun tersebut sempat disalurkan ke tiga majikan yang berbeda di Doha。 Malang,dia kerap mendapatkan siksaan dari majikan karena tidak mampu bekerja maksimal pasca operasi。

Beruntung,majikannya yang terakhir merasa iba ketika melihat kondisi Rabitah。 Dia kemudian dibawa ke agensi dan meminta agar dipulangkan ke Indonesia。

Akhirnya dia dipulangkan pada 24 Juli 2014 dari Bandara Qatar menuju ke Surabaya。 Begitu tiba di kampung halaman,Rabitah tidak menyadari jika ginjal kanannya sudah tidak berada di dalam tubuh。 Dia baru menyadari ketika melakukan pemeriksaan kesehatannya di RSUD Tanjung Lombok Utara pada bulan Januari lalu。

“Melalui kesempatan ini,saya meminta bantuan kepada bapak bupati untuk menuntut pelakunya。 Saya tidak ikhlas dunia akhirat kalau ginjal saya diambil secara diam-diam。 Kalau pun dia minta ke saya,mungkin saya ikhlaskan。 Tapi,ini diambil tanpa sepengetahuan,“kata Rabitah menjelaskan harapannya。

Akan kirim surat kepada Presiden

Mendengar pengakuan tersebut,Bupati Lombok Utara,Najmul Akhyar sangat menyesalkan kejadian yang menimpa Rabitah。 Dia berjanji akan berupaya maksimal untuk membantu warganya,termasuk dengan membantu biaya operasi dan pengobatan Rabitah selama di rumah sakit。

“Dengan cara apa pun(akan saya bantu),apakah pemerintah akan mengeluarkan uang atau kami akan membangun jaringan untuk menyelesaikan permasalahan ini,”kata Najmul。

Bahkan,Najmul berjanji akan mengirimkan surat kepada Presiden Joko“Jokowi”Widodo untuk meminta perhatian khusus terhadap persoalan yang dialami oleh TKI di luar negeri。

“Saya juga mengimbau kepada semua kepala daerah agar turut aktif terhadap persoalan-persoalan seperti ini,sebab cukup sering terjadi di Indonesia,”kata dia。 - laporan ANTARA / Rappler.com