新闻是有分量的

Apa itu zat beracun VX yang diduga membunuh Kim Jong-Nam?

2017年2月25日下午12:05发布
2017年2月25日下午12:05更新

雅加达,印度尼西亚 - Kepolisian Malaysia mengumumkan temuan mengejutkan soal zat kimia yang ditemukan di wajah Kim Jong-Nam yang diseka diduga menggunakan sapu tangan。 Dalam laporan awal toksikologi,tim forensik menemukan racun ehtyl n-2-diisopropylaminoethyl methylphosphonothiolate atau racun syaraf VX。 (BACA: )

Jajem zat kimia itu terdeteksi di bagian wajah dan mata。 Zat VX jelas sangat mematikan,karena Kim Jong-Nam langsung tak sadarkan diri dan diumumkan meninggal beberapa jam usai diserang oleh dua orang perempuan。

Sebenarnya,apa zat VX itu dan mengapa bisa masuk ke Malaysia walau sudah dikategorikan senjata kimia pembunuh massal? Berikut Rappler rangkum penjelasannya:

1. Apa itu zat VX?

Menurut ahli toksikologi kimia dari Universitas Indonesia Dr. rer。 nat(doktor ilmu sains)Budiawan,VX terbuat dari bahan kimia golongan fosfat yang sudah dimodifikasi。 Zat tersebut diketahui sangat mematikan dan kerap digunakan dalam peperangan。

Berdasarkan Pusat Pengendalian Penyakit dan Pencegahan Amerika Serikat(CDC),VX menjadi ampuh digunakan untuk membunuh lawan di medan peperangan,selain Sarin。

VX yang memiliki nama kimia O-乙基S-二异丙基氨基甲基甲基硫代磷酸酯硫酸盐二硫化物。 Zat berupa cairan tersebut tidak berwarna,tidak berasa,dan warnanya bening。

VX pertama kali ditemukan di awal pertengahan tahun 1950an oleh seorang ahli kimia bernama Ranaji Ghosh。 Menurut harian Inggris, ,dia bekerja untuk perusahaan bernama Imperial Chemical Industries di Inggris。

Tingkat racun dan bentuk fisiknya dipelajari oleh militer Inggris。 Mereka lalu menyerahkan formula peracikannya kepada militer Amerika Serikat。 Negeri Paman Sam kemudian mulai memproduksinya dalam jumlah besar pada tahun 1961。

2. Bagaimana cara kerjanya di tubuh manusia?

VX bekerja dengan masuk ke dalam kulit dan mengganggu transmisi cara kerja syaraf。 Jika terpapar zat VX maka individu yang bersangkutan akan mengalami kejang-kejang,hilang kesadaran,pingsan dan mengalami kegagalan pernafasan。

Huruf“V”dalam“VX”merupakan kepanjangan dari berbisa。 Menurut situs National Academies,zat itu sangat mudah menyerap ke dalam kulit。

Zat ini pernah digunakan oleh sebuah sekte di Jepang tahun 1995 untuk menyerang publik di stasiun bawah tanah。 Salah seorang warga yang berhasil selamat dari serangan itu,Hiroyuki Nagaoka mengaku disemprot menggunakan zat itu dari belakang oleh salah seorang anggota sekte itu。 Beruntung,zat itu terhalangi oleh jaket yang dia kenakan。

“Saat itu saya tidak tahu apa yang terjadi,”ujar Hiroyuki kepada stasiun televisi NHK。

Namun,setengah jam kemudian,dia menyadari tiba-tiba semuanya hitam,kemudian pupil matanya mengecil。 Dia mulai merasa kepanasan dan berkeringat。 Tak berapa lama kemudian,dia kehilangan kesadaran dan pingsan。

Dia dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan darurat dan sempat tak sadarkan diri selama beberapa hari。

“Saya diselamatkan oleh kerah jaket yang saya kenakan,”katanya kepada NHK。

3. Apa saja gejalanya di dalam tubuh?

Bagi individu yang terpapar zat itu maka efek yang dirasakan tergantung dari berapa banyak zat yang menyebar。 Sementara,gejalanya sudah mulai terlihat langsung hingga 18 jam kemudian。

Dalam dosis yang tinggi,zat VX bisa menyebabkan rasa pusing,tidak sadarkan diri,kelumpuhan dan kematian karena gagalnya alat pernafasan berfungsi。

Menurut Budiawan,hal itu tidak mengherankan karena zat VX diciptakan untuk menyasar organ syaraf。 Dengan begitu syaraf tidak bekerja dan menyebabkan kelumpuhan organ penting lainnya di dalam tubuh。 Zat itu semakin cepat bekerja,jika individu sasarannya adalah anak-anak atau orang yang rentan。

Sementara,jika dalam dosis yang rendah bisa menyebabkan beragam gejala termasuk meningkatnya detak jantung,penglihatan yang tidak jelas,diare,mual dan muncul rasa sakit。

Lalu,bagaimana dengan pelaku yang sempat memberikan zat itu kepada korban? Budiawan menilai kecil kemungkinan pelaku melakukan kontak langsung dengan zat VX tersebut,karena zat itu mudah menyerap。

“Oleh sebab itu,dia(pelaku)diperintahkan untuk cuci tangan,karena memang dalam komposisi kimianya masih bisa hilang jika kena air。 Apalagi jika dicuci dengan menggunakan sabun,“kata Budiawan kepada Rappler pada Jumat,24 Februari。

Sementara,bagi petugas medis yang sempat merawat Kim Jong-Nam juga kecil terpapar,karena mereka menggunakan peralatan medis seperti masker dan sarung tangan。 Saat Kim Jong-Nam tiba di klinik pun,kemungkinan besar racunnya sudah terserap。

4. Penggunaan VX dilarang

Penggunan zat kimia VX dilarang dalam beberapa kesepakatan internasional,termasuk Protokol Jenewa tahun 1925 dan Konvensi Senjata Kimia pada tahun 1993. Protokol Jenewa keluar usai diketahui adanya penggunaan gas beracun pada Perang Dunia I. Kesepakatan itu diperkuat dengan diteken Konvensi tahun 1993. Dalam konvensi itu terdapat larangan untuk meracik,memproduksi,menyimpan dan memindahkan senjata kimia。

“Karena VX begitu beracun,bahkan efeknya lebih hebat dari Sarin,sehingga dianggap sebagai senjata kimia,”ujar Analis Kebijakan Keamanan di kawasan Asia Timur dari Universitas Freie,Corey Wallace。

5. Apakah Korea Utara memiliki zat VX?

Korut memang satu di antara beberapa negara yang bukan penandatangan Konvensi Senjata Kimia yang diteken tahun 1997 lalu。 Tetapi,mereka ikut menandatangani Protokol Jenewa yang melarang penggunaan senjata kimia dalam medan peperangan。

Korut mengklaim mereka tidak pernah memiliki program untuk membuat senjata kimia。 Tetapi,berdasarkan laporan dari ,mereka diduga memiliki antara 2.500 hingga 5.000 ton senjata kimia,termasuk VX。

Sejak awal Pyongyang membantah menjadi dalang sesungguhnya dari pembunuhan Kim Jong-Nam。 Mereka memilih lebih mempercayai laporan awal Pemerintah Malaysia bahwa saudara tiri Kim Jong-Un itu meninggal karena serangan jantung。

Oleh sebab itu,mereka menuntut agar jasad Kim Jong-Nam segera diserahkan oleh Malaysia kepada Kedutaan Korut di Kuala Lumpur。 Duta Besar Korut di Kuala Lumpur kerap melemparkan pernyataan yang menyebut Malaysia memiliki niat jahat dengan sengaja menyimpan jasadnya di rumah sakit。 - dengan laporan Santi Dewi / Rappler.com