新闻是有分量的

Melepas Lucky Boy dan Titik ke alam bebas

2017年2月19日上午11:26发布
2017年2月19日上午11:26更新

Seekor bekantan di balik jeruji sebelum dilepasliarkan di Banjarmasin,Kalimantan Selatan,pada 18 Februari 2017. Foto oleh Uni Lubis / Rappler

Seekor bekantan di balik jeruji sebelum dilepasliarkan di Banjarmasin,Kalimantan Selatan,pada 18 Februari 2017. Foto oleh Uni Lubis / Rappler

BANJARMASIN,Kalimantan Selatan - Lucky Boy nampak bingung melihat seratusan orang mengelilingnya,pada Sabtu,18 Februari,di Pulau Bakut,Banjarmasin,Kalimantan Selatan。

Mata Bekantan berusia tujuh tahun itu membelalak dari balik kandang berjeruji。 Di sampingnya berjajar tiga kandang serupa。 迪亚蒂亚蒂克,贝坎图,巴尔西亚利马塔胡恩; Mantuil,bekantan jantan usia lima tahun; dan seekor bekantan betina usia lima tahun yang belum punya nama。

Beberapa saat kemudian,Siti Nurbaya Bakar memberinya nama,Lola Amalia。

幸运男孩diraw​​at di pusat karantina Lembaga Swadaya Masyarakat Sahabat Bekantan印度尼西亚sejak tahun lalu。 Bekantan ini bermigrasi menyeberangi Sungai Barito,gara-gara konflik dengan warga daerah Anjir,Provinsi Kalsel。 Warga melaporkan kedatangan bekantan itu ke Balai Konservasi dan Sumberdaya Alam(BKSDA)setempat,yang lantas mengevakuasinya。

Kisah hidup yang dialami Titik lain lagi。 Bekantan ini berasal dari sekitar hutan di dekat Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum,Kabupaten Banjar。 Titik ditemukan dalam keadaan luka cukup parah di sekitar jalan raya di sana pada 2015。

Rupanya Titik ditabrak mobil saat menyeberangi jalan raya Gubernur Subarjo。 Titik ketakutan dan menyeberangi jalan karena saat itu terjadi kebakaran hutan dan lahan saat itu。 Satwa ini kemudian diraw​​at oleh LSM Sahabat Bekantan Indonesia dan direhabilitasi untuk dikembalikan ke habitatnya。

Melepas Lucky Boy,Titik,Mantuil,dan Lola Amalia ke alam bebas di Taman Wisata Alam Pulau Bakut adalah bagian dari upaya melestarikan populasi bekantan(Nasalis Larvarus)。 Menurut perkiraan BKSDA Banjarmasin,ada 62 ekor bekantan yang menghuni TWA Pulau Bakut。

总bekantan yang ada di wilayah Kalimantan Selatan sekitar 1.200 sampai 2.000 ekor。 Bekantan hamil selama 166 hari dan kemudian melahirkan seekor anak。 Biasanya bekantan hidup dalam kelompok 20 ekor dengan empat jantan。

“Pemerintah menugasi TWA Pulau Balut untuk memonitor populasi bekantan。 Sejak 2014,populasinya bertambah dari 30 ekor saat itu di Pulau Balut saja,“kata Siti。

Bekantan masuk ke dalam 25 spesies yang dilindungi di Indonesia。 Spesies lain yang dilindungi di wilayah Kalsel adalah orangutan,beruang madu,binturung,elang bondol,trenggiling,burung julang emas,kancil,rusa sambar,owa-owa,buaya puara,penyu,dan ikan arwana。

Wilayah pesisir sungai dan pantai laut di Kalimantan Selatan merupakan habitat endemik bekantan,namun seiring deubaan perubahan tata ruang wilayah,maka populasi bekantan semakin menurun。

Usai pelepasliaran,Siti Nurbaya berpesan,“Setelah dilepasliarkan,perlu dilakukan pemantauan populasi Bekantan di TWA tersebut,jangan sampai melebihi daya dukung”。

Hari Peduli Sampah Nasional 2017

Menteri LHK Siti Nurbaya(kedua kiri)bersama pejabat KLHK dan pemerintah setempat berfoto bersama pelajar asal Amerika Serikat dalam peringatan Hari Sampah Nasional,pada 18 Februari 2017. Foto oleh Uni Lubis / Rappler

Menteri LHK Siti Nurbaya(kedua kiri)bersama pejabat KLHK dan pemerintah setempat berfoto bersama pelajar asal Amerika Serikat dalam peringatan Hari Sampah Nasional,pada 18 Februari 2017. Foto oleh Uni Lubis / Rappler

Melepas empat Bekantan ke alam bebas adalah bagian dari peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2017.Di Banjarmasin,Siti dan Wali Kota Ibnu Sina juga mengukuhkan 20 orang pemangku sungai,60 siswa Duta Babarasih atau penjaga kebersihan lingkungan,Duta Konservasi,dan Duta Bekantan。

“Di Banjarmasin ada 104 sungai。 Kami mendeklarasikan sebagai kota sungai terbersih di Indonesia,“kata Ibnu。

Tantangan paling berat,menurutnya,adalah mengurangi sampah plastik termasuk botol bekas minuman yang biasanya dibuang sembarangan ke sungai。

(BACA: )

Di Pulau Balut,Siti bersama sejumlah pejabat tinggi kementerian dan pemerintah daerah juga menanam 100 batang pohon jenis-jenis endemik untuk mendukung habitat satwa bekantan,yaitu jenis Bintaro,Ketapang,Cempaka,Belangeran,dan Mahoni dengan tinggi bibit berkisar 1-2米。

Di wilayah provinsi Kalimantan Selatan,terdapat dua kawasan konservasi habitat Bekantan,yaitu TWA Pulau Kembang dan TWA Pulau Bakut。 Kedua TWA ini merupakan obyek wisata yang sangat berpotensi di Kalimantan Selatan。

Pengunjung bisa menyeberang ke Pulau Bakut dengan taksi air selama 5 menitan,karena letaknya masih di wilayah kota。

“TWA Pulau Bakut masih perlu dikembangkan dan dilengkapi sarana prasarana,sehingga menjadi obyek wisata yang baik,”kata Siti。

Tiga pelajar asal Amerika Serikat ikut menyaksikan Lucky Boy,Titik,Mantuil dan Lola Amalia berlarian dan naik ke pohon begitu pintu kandang dibuka。

Ketiga pelajar muda yang bernama Amelia,Abigail,dan Ely itu mengatakan,“Bekantan harus diselamatkan karena mereka terluka”。 - Rappler.com