新闻是有分量的

Mahasiswa Universitas Brawijaya turunkan spanduk anti PKI dan anti LGBT

2017年2月18日下午3:13发布
2017年2月18日下午3:14更新

反科莫尼斯。 Spanduk yang dipasang di gedung FISIP Universitas Brawijaya dan akhirnya dicopot oleh mahasiswa pada Jumat,17 Februari。 Foto oleh Eko Widianto / Rappler

反科莫尼斯。 Spanduk yang dipasang di gedung FISIP Universitas Brawijaya dan akhirnya dicopot oleh mahasiswa pada Jumat,17 Februari。 Foto oleh Eko Widianto / Rappler

印度尼西亚马朗 - Mahasiswa akhirnya mencopot spanduk yang terpasang di dinding gedung FISIP Universitas Brawijaya。 Dalam spanduk itu bertuliskan“LGBT penyakit”,“Anti LGBT”,“Hindari Paham PKI”,“Stop PKI”dan“Waspada Kebangkitan PKI”。

Spanduk dengan latar belakang hitam bergambar palut arit itu menarik perhatian mahasiswa dan sempat terpasang di atas pintu lift gedung FISIP。 Keberadaan spanduk itu sempat menjadi perbincangan di media sosial。

Salah seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi,Widodo mengaku awalnya melihat spanduk itu terpasang di lantai 1. Tetapi kemudian spanduk itu dipindahkan ke lantai 4. Namun,saat ini spanduk itu sudah dilepas oleh mahasiswa。

Dia sempat menilai aneh tiba-tiba spanduk semacam itu dipasang di dalam kampus。 Dia menduga ada upaya pengalihan isu tertentu,salah satunya mengenai persiapan dan rencana Universitas Brawijaya menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum(PTNBH)。

“Aneh saja kampus FISIP menganjurkan mahasiswanya menjauhi satu ideologi tertentu,”ujar Widodo。

Sementara,dalam ranah kajian keilmuwan,semua ideologi bisa dipelajari。 Menurutnya,pemasangan spanduk itu memalukan dan justru menandakan mental pejabat di kampus masih terpengaruh orde baru。

责任dekanat

Sementara,menanggapi spanduk anti PKI dan LGBT tersebut,Dekan FISIP Universitas Brawijaya Malang,Unti Ludigdo menjelaskan mahasiswa bisa menimba ilmu dalam berbagai mahzab keilmuwan dan ideologi。 Bahkan,mahasiswa diajari semua aliran ilmu mulai dari perspektif barat,Asia,kritis,postmodern dan positifistik。

“Aliran ilmu dipelajari sebagai dasar teori dalam analisis fenomena sosial,”kata Unti。

Selain ilmu tersebut,FISIP Unti melanjutkan juga mengajarkan bermacam ideologi seperti kapitalisme,sosialisme,komunis,liberal,nasionalis dan ultranasionalis。 Mereka juga tidak lupa untuk mengajarkan ideologi sendiri yakni Pancasila。

Unti mengatakan Pancasila menjadi mata kuliah wajib yang harus diikuti seluruh mahasiswa,termasuk mahasiswa yang berasal dari luar negeri。 FISIP juga mengajarkan kebebasan berpendapat。

“Mengekspresikan pandangan dan pendapat adalah hak individu。 Tapi,harus bertanggung jawab,“katanya lagi。

Terkait dengan spanduk berisi tulisan anti PKI dan anti LGBT,Uni menilai itu merupakan ekspresi yang wajar。

“Pesannya baik,mengajak mengamalkan dan menjunjung nilai luhur ideologi Pancasila。 Tetapi,媒体dan ruangnya tidak tepat sehingga menimbulkan kontroversi,“kata dia。

Oleh sebab itu,dia meminta mahasiswa menggunakan media dan ruang komunikasi yang tepat。 Sebelumnya,di tahun 2014,FISIP Universitas Brawijaya melarang pemutaran film Senyap atau The Silent of Silent。

Kebijakan yang dianggap pembatasan itu berulang di tahun 2015 ketika Fakultas Ilmu Administrasi melarang pemutaran film Samin vs Semen。 Di tahun yang sama,Rektor Universitas Brawijaya melarang mahasiswa menggelar diskusi dengan tema LGBT。 - Rappler.com